Blog

Wisata River Tubing di Sungai Pusur, Klaten

Bak surga tersembunyi di balik teriknya Jalan Cokro-Delanggu yang menjadi perlintasan truk-truk besar, Sungai Pusur yang melintasi wilayah Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menawarkan kesejukan dan pemandangan nan asri.

Meski airnya sudah tidak begitu jernih, sungai yang berkelok-kelok di bawah rimbun pepohonan itu hangat diperbincangkan di media sosial. Pasalnya, sungai yang tidak terlalu dalam dengan lebar bervariasi (berkisar 1-5 meter) itu telah dikelola para pemuda setempat menjadi obyek wisata alternatif, yaitu river tubing.

River tubing semacam paket hematnya rafting atau arung jeram. Bedanya, rafting dilakukan di sungai berarus deras secara berkelompok dan menggunakan perahu karet serta dayung. Sedangkan river tubing adalah menyusuri sungai berarus sedang secara individu menggunakan pelampung dari ban dalam mobil dengan kedua tangan sebagai dayung.

“Sayangnya, kesadaran sebagian masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Pusur untuk tidak membuang sampah ke sungai masih cukup rendah,” kata Kepala Desa Keprabon Sugiyono saat ditemui Tempo di sela kegiatan Pusur River Transect pada Senin, 19 September 2016.

Transect adalah semacam metode yang digunakan para peneliti untuk mempelajari suatu areal atau wilayah dengan mengambil sejumlah titik sampel. “Transect atau jelajah sungai ini untuk melihat bentang alam Sungai Pusur, terutama bagian tengah, dari hilir (Desa Keprabon) ke hulu (Desa Sudimoro, Kecamatan Tulung,” kata Rubiyanto selaku koordinator tim Pusur River Transect.

Transect Sungai Pusur melibatkan 19 orang. Mereka adalah para pakar di Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Klaten, Badan Lingkungan Hidup Klaten, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Klaten, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Universitas Gadjah Mada, aktivis lingkungan dari Gerakan Sekolah Sungai Klaten, Lestari (Lembaga Studi dan Tata Mandiri) Yogyakarta, dan Paguyuban Bank Sampah Sekar Keprabon.

Rubiyanto mengatakan tim tersebut melakukan riset selama tiga hari untuk lima kriteria, yaitu potensi sampah, morfologi sungai, potensi kebencanaan, biota sungai, dan sumber daya alam. “Hasil dari transect ini akan dibuat kajian atau literatur tentang Sungai Pusur. Datanya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan,” katanya.

Dia mencontohkan, jika kadar potensi sampah di Sungai Pusur dinilai sudah mengkhawatirkan, hasil kajian transect bisa menjadi landasan bagi instansi terkait memetakan langkah yang akan ditempuh. “Begitu pula dalam hal potensi kebencanaan, hasil kajian transect bisa menjadi database bagi BPBD dalam menangani Sungai Pusur,” kata Rubiyanto, yang juga pengurus Lestari Yogyakarta.

Selama tiga hari menjelajah Sungai Pusur, Rubiyanto menambahkan, para anggota tim transect akan menginap di tepi sungai. “Kami mendukung kegiatan ini, dengan harapan menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk tidak membuang limbah rumah tangga di sungai,” kata Agus, 25 tahun, pemuda Desa Keprabon yang juga sebagai pemandu river tubing.

Sumber: https://m.tempo.co/read/news/2016/09/20/243805578/wisata-baru-di-klaten-jelajah-river-tubing-di-sungai-pusur

Menyimak Kisah Unik di Balik Kerajinan Tenun Lurik Khas Pedan Klaten

Pedan, kecamatan di Kabupaten Klaten selama ini dikenal sebagai pusat kerajinan tenun lurik.

Di daerah ini lurik memiliki sejarah yang sangat panjang, serta cerita pasang surut yang mengiringinya.

Terletak di Dusun Jalinan, Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, perajin lurik bernama Sumber Sandang adalah pelopor tenun lurik di Pedan.

Adalah Suhardi Hadi Sumarto yang merintis Sumber Sandang sejak tahun 1938.

Saat ini Sumber Sandang diteruskan oleh anaknya bernama R. Rachmad.

“Pada tahun 1938, Bapak belajar tenun ke Textiel Inrichting Bandoeng (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil),” jelas Rachmad.

Berkat kemampuan tersebut usaha tenun lurik berkembang dengan baik dan memiliki banyak karyawan.

Pedan, kecamatan di Kabupaten Klaten selama ini dikenal sebagai pusat kerajinan tenun lurik.

Di daerah ini lurik memiliki sejarah yang sangat panjang, serta cerita pasang surut yang mengiringinya.

Terletak di Dusun Jalinan, Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, perajin lurik bernama Sumber Sandang adalah pelopor tenun lurik di Pedan.

Adalah Suhardi Hadi Sumarto yang merintis Sumber Sandang sejak tahun 1938.

Saat ini Sumber Sandang diteruskan oleh anaknya bernama R. Rachmad.

“Pada tahun 1938, Bapak belajar tenun ke Textiel Inrichting Bandoeng (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil),” jelas Rachmad.

Berkat kemampuan tersebut usaha tenun lurik berkembang dengan baik dan memiliki banyak karyawan.

Diceritakan Rachmad, selama dalam pengungsian tersebut, karyawan Sumber Sandang membeberkan ilmu menenun kepada sesama pengungsi.

Pada tahun 1950 setelah kondisi aman, warga yang mengungsi kembali ke Pedan dan mereka mulai membuka usaha tenun.

Mulai saat itu Pedan dikenal sebagai pusat tenun lurik di Klaten.

Pada tahun 1960 Rachmad meneruskan usaha yang dirintis orang tuanya tersebut.

Sebelumnya, pria kelahiran tahun 1932 sempat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tetapi hanya bertahan satu tahun dan akhirnya pulang kampung meneruskan usaha keluarga.

Saat ini, tenun lurik Pedan memang telah melewati masa jayanya.

Gempuran industri tekstil dengan segala infrastruktur modernnya menepikan pamor tenun lurik Pedan.

Meski demikian, sampai saat ini Sumber Sandang masih mampu terus bertahan.

Dikatakan Rachmad, terus melakukan invosi dan menghadirkan produk yang beragam menjadi senjata untuk terus bertahan.

“Dengan alat tenun bukan mesin (ATBM), kami tidak hanya memproduksi lurik, tetapi beberapa jenis kain lainnya,” jelas Rachmad.

Saat ini Sumber Sandang juga memproduksi kain tenun khas beberapa daerah seperti Toraja, hingga kain khas Meksiko yang kaya warna.

Dan hingga tenun karya Sumber Sandang telah terdistribusi beberapa daerah di Indonesia, bahkan hingga ke Jepang.

“Kami bisa membuat beragam jenis kain. Jadi konsumen bisa memesan jenis kainnya seperti apa, asal membawa contoh bisa kami buatkan,” ujarnya.

Tetapi tenun lurik, tetap menjadi andalan dari Sumber Sandang.

Beragam jenis motif lurik, yakni ketan ireng, ketan salak, kijing miring, sodo sak ler, kembang bayem, kembang sembukan, rinding putung, dom kecer (hujan gerimis), tumbar pecah, bisa pengunjung dapatkan di Sumber Sandang.

Kain lurik tersebut bisa kamu dapatkan dalam beberapa jenis produk, mulai dari syal seharga Rp 20 ribu hingga kain lurik berbahan baku sutra dengan harga hingga ratusan ribu.

Di Sumber Sandang, pengunjung juga bisa menyaksikan bagaiamana tenun lurik diproduksi dengan cara tradisional.

Untuk menghasilkan selembar kain, dibutuhkan proses yang panjang, mulai dari pewarnaan, pemintalan, penyusunan motif, cucuk, hingga penenunan.

Semua proses tersebut masih dilakukan dengan cara manual, dan sebagain besar yang mengerjakan sudah berusia lanjut.

“Sulitnya regenerasi pekerja, juga menjadi tantangan kami untuk mempertahankan usaha ini,” pungkas Rachmad.

Sumber : http://travel.tribunnews.com/2016/12/30/wisata-klaten-menyibak-kisah-unik-di-balik-kerajinan-tenun-lurik-khas-pedan-klaten

Kerajinan Kapal dalam Botol Asal Klaten di Pasarkan ke Luar Negeri

Kreatifitas Agung Santoso (33) membuat kapal dalam botol, mengantarnya mereguk pundi-pundi rupiah.

Berbekal ilmu coba-coba alias otodidak, ia kini dapat memasarkan produk kerajinannya, melalang seantero negeri dan mancanegara.

Saat berkunjung ke rumahnya, di Dusun Ngaglik, Desa Klepu, Kecamatan Ceper-Klaten, ia tengah sibuk mengemas botol-botol berisi kapal kedalam sebuah kardus besar.

Kepada Tribun Jogja, ia mengatakan kerajinannya itu dipesan pengepul untuk dipasarkan ke Pulau Dewata.

Sambil membereskan pesananya, ia bercerita tentang awal mula usaha yang digelutinya sejak tiga tahun lalu. Dikatakannya, sebelum menekuni usaha tersebut, Agung mengaku tak memiliki dasar ketrampilan kerajinan.

Malah sebelumnya, ia menjadi pembuat tempe dan menjualnya berkeliling.

“Dulu sebelum saya membikin kapal dalam botol, saya buat tempe dan tahu serta menjual kerupuk. Saat itu saya sama sekali tak terpikir untuk menggeluti usaha saya sekarang,” ujarnya, Sabtu (16/4/2016).

Sampai kemudian, usaha pembuatan tempe dan tahu yang digeluti, dirasa mulai tak menguntungkan karena berbagai hal. Mulai dari banyaknya saingan, pengepul yang tidak jujur, hingga produknya tak laku dijual.

Hal itu juga diakui oleh istrinya, Uswatun Khasanah (32). Menurutnya, membuat tempe ataupun tahu mengandung banyak risiko, seperti basi. Oleh karenanya ia mendukung kegiatan sang suami untuk banting stir menjadi perajin.

Dari situ, ia kemudian melirik ke usaha kerajinan. Dikatakan Agung, saat itu ia sempat melihat barang kerajinan serupa di tempat seorang juragan. Pria gondrong itu lalu memberanikan diri untuk belajar kepada pemilik usaha. Namun tak disangka usahanya itu gagal.

“Bos nya tidak mau menularkan cara pembuatan kapal dalam botol kepada saya. Akhirnya saya batal belajar. Namun kemudian, saya berinisiatif untuk mempelajari teknik pembuatannya secara otodidak,” kenang Agung.

Setelah mahir, ia memberanikan diri untuk membuka usahanya sendiri. Bermodalkan uang satu juta rupiah, ia lantas memulainya.

Setelah mencoba, ia kemudian dapat menelurkan 50 buah kapal dalam botol. Lalu ia bawa ke penjual suvenir, yang ada di Malioboro Yogyakarta.

Tak dinyana, tanggapan pasar begitu positif. Dari hanya menyetorkan ke beberapa pedagang kini pengepul justru datang kerumahnya, untuk mengambil barang kerajinan itu.

Sekarang, ia mengaku sudah memiliki lima pengepul yang memasarkannya didalam negeri, seperti pulau Jawa dan Bali. Sedangkan untuk pasar luar negeri, produknya sudah dipasarkan hingga ke Kepulauan Fiji.

“Untuk harganya, yang gantungan kunci Rp 1500, botol kecil Rp 5000, botol sedang Rp 8000 dan besar Rp 10.000. Sedangkan untuk pasar luar negeri dengan botol yang khusus seperti bekas miras jenis vodka sampai Rp 30.000. Dalam seminggu bisa menghasilkan dua ratus buah, untuk setiap ukurang botol,” terang Agung.

Kini dengan pesanan yang membludak, ia mempekerjakan 15 orang tetangganya untuk membuat berbagai macam spare part kapal.

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2016/04/16/kerajinan-kapal-dalam-botol-asal-klaten-ini-dipasarkan-sampai-luar-negeri?utm_medium=twitter&utm_source=twitterfeed

Tingginya Peluang Expor Kerajinan Tangan UMKM

Produk kerajinan tangan yang diproduksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peluang pasar tinggi. Buktinya, permintaan untuk jenis produk ini menempati posisi cukup tinggi bagi pasar Eropa dan Amerika. Pasar ini juga sangat terbuka di Jepang meski Jepang dikenal sangat pemilih dalam menentukan barang yang dibelinya. Data dari Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag RI beberapa saat lalu menyebut, selain kerajinan, masih sangat terbuka pasar bagi produk seperti perhiasan, aksesoris, obat-obatan herbal, minyak esensial/minyak aromatherapi, teh, gift product, produk kulit, produk perikanan bahkan sumpit. Data ini diperoleh Kemendag dari berbagai permintaan berbagai negaramelalui hubungan dagang yang dimiliki Indonesia diberbagai negara. Selama ini untuk menggalang peluang ekspor Kemendag membuka perwakilan perdagangan di berbagai negara dan dari situlah daftar produk ini didapatkan, berdasar jumlah permintaan yang terus meningkat. Selain itu Kemendag juga menggelar program mengundang para calon buyer dari berbagai negara ke Indonesia untuk melihat langsung keunggulan produk dalam negeri teutama produk UMKM. Para calon buyer itu datang atas pembiayaan Kemendag dan mereka harus melakukan transaksi dengan nilai tertentu sepulang dari Indonesia. Meski demikian, UMKM diharapkan pintar membidik peluang impor bagi produk-produk mereka UMKM juga harus mampu membangun jaringan pemasaran baru melalui jaringan internet. Jaringan perdagangan online adalah salahsatu kanal yang saat ini sudah menjadi saluran perdagangan yang sangat prospektif. Melalui teknologi on line ini UMKM bisa memasarkan produknya dengan murah karena biaya operasionalnya kecil sekaligus menjangkau pasar luas tanpa batas. Media online juga memungkinkan UMKM membidik pasar-pasar yang lebih luas dan ragam produk yang lebih banyak untuk dipasarkan. Soalnya selama ini salahsatu kendala pengembangan UMKM adalah jaringan pemasaran yang terbatas. Saat ini kendala itu sudah bisa di-eliminir dengan memanfaatkan teknologi ini.
Sumber : http://www.kompasiana.com/berdesa/tinggi-peluang-ekspor-kerajinan-tangan-umkm_56bb0d28507a613c0716e956