Kerajinan Kapal Botol

Kerajinan Kapal dalam Botol Asal Klaten di Pasarkan ke Luar Negeri

Kreatifitas Agung Santoso (33) membuat kapal dalam botol, mengantarnya mereguk pundi-pundi rupiah.

Berbekal ilmu coba-coba alias otodidak, ia kini dapat memasarkan produk kerajinannya, melalang seantero negeri dan mancanegara.

Saat berkunjung ke rumahnya, di Dusun Ngaglik, Desa Klepu, Kecamatan Ceper-Klaten, ia tengah sibuk mengemas botol-botol berisi kapal kedalam sebuah kardus besar.

Kepada Tribun Jogja, ia mengatakan kerajinannya itu dipesan pengepul untuk dipasarkan ke Pulau Dewata.

Sambil membereskan pesananya, ia bercerita tentang awal mula usaha yang digelutinya sejak tiga tahun lalu. Dikatakannya, sebelum menekuni usaha tersebut, Agung mengaku tak memiliki dasar ketrampilan kerajinan.

Malah sebelumnya, ia menjadi pembuat tempe dan menjualnya berkeliling.

“Dulu sebelum saya membikin kapal dalam botol, saya buat tempe dan tahu serta menjual kerupuk. Saat itu saya sama sekali tak terpikir untuk menggeluti usaha saya sekarang,” ujarnya, Sabtu (16/4/2016).

Sampai kemudian, usaha pembuatan tempe dan tahu yang digeluti, dirasa mulai tak menguntungkan karena berbagai hal. Mulai dari banyaknya saingan, pengepul yang tidak jujur, hingga produknya tak laku dijual.

Hal itu juga diakui oleh istrinya, Uswatun Khasanah (32). Menurutnya, membuat tempe ataupun tahu mengandung banyak risiko, seperti basi. Oleh karenanya ia mendukung kegiatan sang suami untuk banting stir menjadi perajin.

Dari situ, ia kemudian melirik ke usaha kerajinan. Dikatakan Agung, saat itu ia sempat melihat barang kerajinan serupa di tempat seorang juragan. Pria gondrong itu lalu memberanikan diri untuk belajar kepada pemilik usaha. Namun tak disangka usahanya itu gagal.

“Bos nya tidak mau menularkan cara pembuatan kapal dalam botol kepada saya. Akhirnya saya batal belajar. Namun kemudian, saya berinisiatif untuk mempelajari teknik pembuatannya secara otodidak,” kenang Agung.

Setelah mahir, ia memberanikan diri untuk membuka usahanya sendiri. Bermodalkan uang satu juta rupiah, ia lantas memulainya.

Setelah mencoba, ia kemudian dapat menelurkan 50 buah kapal dalam botol. Lalu ia bawa ke penjual suvenir, yang ada di Malioboro Yogyakarta.

Tak dinyana, tanggapan pasar begitu positif. Dari hanya menyetorkan ke beberapa pedagang kini pengepul justru datang kerumahnya, untuk mengambil barang kerajinan itu.

Sekarang, ia mengaku sudah memiliki lima pengepul yang memasarkannya didalam negeri, seperti pulau Jawa dan Bali. Sedangkan untuk pasar luar negeri, produknya sudah dipasarkan hingga ke Kepulauan Fiji.

“Untuk harganya, yang gantungan kunci Rp 1500, botol kecil Rp 5000, botol sedang Rp 8000 dan besar Rp 10.000. Sedangkan untuk pasar luar negeri dengan botol yang khusus seperti bekas miras jenis vodka sampai Rp 30.000. Dalam seminggu bisa menghasilkan dua ratus buah, untuk setiap ukurang botol,” terang Agung.

Kini dengan pesanan yang membludak, ia mempekerjakan 15 orang tetangganya untuk membuat berbagai macam spare part kapal.

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2016/04/16/kerajinan-kapal-dalam-botol-asal-klaten-ini-dipasarkan-sampai-luar-negeri?utm_medium=twitter&utm_source=twitterfeed